Selasa, 01 November 2016

Have i contribute to people and country?



Apa benar ini sebuah kutukan?Aku masih tidak menyangka bahwa menulis akan menjadi ladang penghasilanku setelah lulus kuliah. Aku kira aku akan jadi mbak-mbak kantoran nan cantik, bekerja seharian penuh di ruangan ber-ac, berdandan lengkap dengan eyeliner, maskara, dan lipstick yang merah.
Prediksiku salah, nyatanya aku memang dinobatkan menjadi penulis abadi di setiap rongrong waktu. Sejak sekolah, aku harus pusing dengan paragraf-paragraf novel, bait-bait sajak, serta kata-kata idiom. Lanjut ke bangku kuliah, entah mengapa aku mengambil jurusan sastra. Hingga kini, aku lagi-lagi memilih menulis sebagai pe-ker-ja-an-ku.  
Ya, kuli tinta, kata orang sastra. Kurasa inilah jawaban atas doa-doa orang di sekilingku ketika bilang “semoga ilmunya barokah ya” ketika aku wisuda. Ku rasa ini memang merupakan kutukan. Kutukan yang indah, tentunya.
Aku tidak mengeluh. Aku malah bersyukur. Toh, jadi kuli tinta masih halal, nggak nyopet apalagi ngemis. Intinya, berbaik sangkalah pada Tuhanmu, itu saja.Karena di tengah defisit negara yang
mengecewakan, dan corat marut kebingungan fresh graduate mencari kerja, aku masih bisa cari duit sendiri tanpa diiming-imingi secuil nepotisme.


Disela pekerjaanku yang blusukan kesana-kemari, mencari narasumber dan sedikit berita dari isu-isu kota, aku tengah disibukkan dengan aktivitas “merenung”.
Jadi, apakah aktivitas “merenung” itu?
Sejujurnya , aku sedang dikelilingi dengn perasaan sedih dan kecewa dengan diri sendiri. Pasalnya, ketika aku sedang mencari-cari beasiswa untuk lanjut studi, aku sempat berpikir, “ what i have done for almost 22 years living on earth? Have i contribute to people and country? What achievement that i got?” Kemudian pertanyaan-pertanyan ini aku tutup dengan rasa resah dah gelisah.
Apakah ilmu ku sudah bermanfaat? Sudah barokah kah hidupku dengan ilmu yang aku punya? why don’t i do something great for my future from first time ?
 Ah, hidup penuh dengan drama.
Setelah ku pikir-pikir, “Mungkin aku perlu belajar lagi...”

Sabtu, 30 Juli 2016

Seng Legowo, Nduk

Butuh bertahun- tahun cahaya agar sinar bintang bisa sampai ke bumi, namun butuh waktu satu detik untuk menyadari bahwa handphone kamu hilang atau dicopet maling.

Malam kemarin, handphone pacarku hilang, dibeli 1 jam yang lalu sebelum kehilangan (pun bersama kotak beserta kartu garansinya). Entah kesialan macam apa yang menghampiri, smartphone  yang baru kami beli bersama di Andalas itu hilang seketika, ia yakin barang itu jatuh di sekitaran kostku saat ia hendak mengantarkanku pulang. Setelah menyadari kehilangan tersebut, kami bolak-balik menelusuri rute jalan dari Andalas menuju Kost. Hasilnya adalah NIHIL. Kami sepakat untuk menyudahi pencarian ini karena gerimis lagi ga asik diajak kompromi.

Seminggu yang lalu pun, aku kehilangan sebuah handphone. Blackberry gemini kesayangan berwarna pink dan tosca, terjatuh entah di belantara mana. Berhubung rute yang aku lalui sangat jauh (rapak-manggar), aku memilh untuk mengikhlaskannya.

Dari dua kejadian tersebut, aku dan pacarku menjadi pihak yang merugi. Walaupun hal ini terjadi karena keteledoran kami, sesungguhnya hati kecil ini mau nanya ketus, “Kok ga ada ya yang nelpon balikin hape? Kok nomor hape bb ga aktif lagi ya? Kok gada yang niat mau balikin hape sih? Udah dijual kali ya? Padahal ada nomor hapenya loh di kartu garansi. Nasib apa yang nemu smartphone plus virtualnya? Mimpi apa tu orang semalam...". Berkali –kali pertanyaan itu pun sering muncul dari mulut pacar setiap di jalan. Dia belum ikhlas.. aku pun sepertinya sama..

Aku rasa dunia ini sudah penuh dan sesak oleh manusia-manusia jahat. Tidak dipungkiri lagi, manusia zaman sekarang semakin serakah. Rasa “kasihan” sudah tergantikan oleh rasa “ingin punya”. Kepriben ya? Sekarang cuma bisa elus dada.  

Begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa kita simpulkan dari kejadian buruk ini. Mungkin yang ngambil lagi butuh uang. Mungkin dia pingin punya gadget.  Mungkin dia lagi pingin main pokemon go. Mungkin... Namun harus se-serakah jua ia dengan hape butut gemini yang kalo dijual cuma laku seratus ribu? Tapi seratus ribu juga uang kali! Oh, mungkin buat neneknya..


Begitu lah kemungkinan-kemungkinan positif yang –seharusnya- dapat aku pikirkan kembali. Benar-benar butuh waktu satu detik untuk menyadari bahwa rezeki telah datang dan pergi. Harta hanya titipan, semudah itu Tuhan memberi dan mengambilnya lagi. Kata Ibu, “ambil hikmahnya, mungkin kalian kurang sedekah”. “Hehe, iya Buk”.

Selasa, 03 Mei 2016

Sarjana?

Mimpi buruk itu menjadi nyata, Sarjana.

Aku sempat berpikir, bagaimana jadinya bila aku jadi sarjana? 

Oke?
Atau
Nggak?
Entah.

Aku takut nganggur, itu saja. Aku takut aku sulit mempertanggungjawabkan ilmuku ke kehidupan sehari-hari, karna kata atasanku sewaktu PKL "jurusanmu itu nduk, ndak bisa jadi apa-apa, ndak bisa jadi duit". Benar, dadaku bergetar tatkala mendengar ceramahnya (hm mungkin lebih terdengar seperti cemooh?) yang membosankan.

PNS seperti dia memang membosankan, ku akui. Ditambah dengan sifatnya yang angkuh bukan kepalang, jadilah dia seorang atasan PNS yang berhak menghakimi hidup bawahannya. Aku yang sedang jadi mahasiswi magang waktu itu ya bisa apa selain diam. Toh dia bener kok, sekarang kerja harus pakai orang dalam, lewat pintu belakang lah, lewat jendela lah, jangan lupa selipannya. Tanpa itu, jangan harap bisa kerja. 

Entah kenapa Ibu ingin aku jadi PNS, yang berarti aku harus pulang ke kampung halaman. Di kampung ku, Ibu punya banyak "kenalan", masuk lewat ruang tamu pun monggo, bisa diatur. Asal "kenalan" Ibu harus terjamin posisinya.

Kalau Ibu maunya begitu, aku bisa apa selain diam? Berontak? Dengan cara apa? Demo? Adu argumen? Durhaka, tau.

Jujur, alasan terbesarku menolak keinginan Ibu adalah cinta. Cinta kepada pacar, tentunya. Sungguh aku tak ingin jarak mengalahkan kami, menjadi momok raksasa yang siap menerkam hubungan -yang sedang tidak baik- ini. Tapi aku juga tak ingin menjadi anak yang durhaka, lalu dikutuk Ibuku lantaran tak memenuhi harapannya. 

Mungkin aku akan segera menjadi batu, karena pilihanku. Aku tak pulang bu. Aku malah ingin sekali menetap di sini, di kota berlaut. Walaupun harus berpisah beberapa minggu hingga ia selesai bekerja. Setidaknya aku bisa bertemu dengannya setiap hari hingga bosan.



Sekarang, namaku menjadi lebih panjang, karena ilmu, karena sarjana. Aku tidak bahagia seperti manusia kebanyakan, sungguh. Aku masih tak ingin menganggur karna menunggu dua hal (re: interview dan dia) yang mendebarkan sekaligus sungguh tak enak.

Satu hal yang selalu terbesit dalam setiap doaku, "semoga aku tak salah jalan".
Amin, Tuhan.

Bpp, 3/5/16




Jumat, 08 Januari 2016

LDR

LDR: Lelah dan Ragu.

Lelah, benar aku lelah karna terlalu menyukaimu.
Ragu, benar aku mulai ragu denganmu, dengan kita.

Baru kali ini aku patah hati, menangis kesetanan di depan lelaki yang baru 10 bulan aku kenal. Ternyata dibohongi itu menyakitkan. Mataku bengkak, rasanya sesak menampung air mata.

Perempuan itu, namanya Sabina. Anak ibukota, temannya dulu satu kelas di kampus. Cantik? Mungkin. Aku tidak kenal, tidak kenal sama sekali. Hanya sempat mengenal namanya lewat riwayat teleponmu. Awalnya aku maafkan, lantaran kau bilang hanya sekedar teman. Kemudian kau ulang kembali, tapi kali ini lewat media sosial. kau bilang hanya teman, tapi aku maafkan. Aku baik ya..

Aku sadar, aku pernah membohongimu, aku juga pernah salah. Tapi kalau dipikir-pikir pun, rasanya tidak berbanding lurus dengan kesalahnmu kemarin. Kau hancur-leburkan pondasi ini -kepercayaan-, sampai sesak aku menahan sakitnya. Kau pergi ketika aku tidur, tentu menemui perempuan itu. Tepat ketika besok kita akan pergi kepulauan Seribu. Tapi apa? Aku maafkan lagi kan? Benar, Aku terkadang baik hati.

Entah sampai kapan aku menjalani hubungan ini dengan rasa curiga terus menerus. Kadang ingin ku hentikan, tapi aku menyayangimu, calon imamku.

Jika benar aku belum ikhlas memaafkanmu, izinkan aku memperbaiki hatiku yang kelam ini. Beri aku waktu hingga aku benar-benar percaya. Perbaiki kembali pondasi kita dengan koral yang kuat, hingga tak ada sedikitpun celah untuknya roboh lagi.

Rezekiku, kuharap kau selalu sabar dengan sifatku yang terlalu kekanak-kanakan ini. Kuharap aku pun bisa demikian.. Maafkan aku..


N (8/01/16)

Senin, 30 November 2015

Jarak yang Pekat



 
Kata orang, kita mencari untuk ditemukan. Ada pula yang mengatakan, kita mencari untuk menemukan. Ternyata itu bukan omong kosong, tak salah setitik pun.
Aku suka badanmu yang tidak atletis, aku suka celah-celah matamu yang sempit, aku suka tabiatmu. Waktu lalu kita pernah bercakap dalam dialek melayu, agak aneh aku mendengarnya. Tapi kau selalu berhasil membuatku tetawa.
Kau bilang kau hendak ke sana, ke negeri jiran, dimana selalu kau temukan dialek tersebut disetiap saat. Aku iyakan. Aku hanya takut merindukanmu jika tidak ada jaringan telkomsel disana. Karna cinta kita hanya mengharapkan telpon selular, dan wifi-wifi gratis. Kuharap kau juga mengerti.
Disini aku akan baik-baik saja, sayang. Seperti pesanmu padaku sebelum pesawatmu lepas landas dari yogyakarta menuju jakarta lalu mengawang ke Malaysia. Aku hanya mengakhawatirkanmu sebab baru-baru ini kapal terbang berbau negeri jiran jatuh di laut cina selatan, penumpang dan awak serta puing-puingnya pun tidak ditemukan.
Dan seperti biasa, kau sibuk disana. Entah sibuk apa, aku tak bertanya. Yang kutahu pastilah tidak jauh dari musik tradisi yang kau geluti. Mondar-mandir, letih, dan linglung. Ada proyek, kau mengabariku tanpa kutanya. Aku paham maksudmu, pasti kau tak ingin membuatku lama menunggu pesan dan telpon singkat darimu kan? Aku sudah paham, sayang. Aku pun sering mengalaminya, datang pagi pulang subuh.
Enam hari kau tak mengabariku, aku tidak marah, aku hanya khawatir. Sudahkah makanmu terpenuhi, berapa batang rokok yang kau hisap dalam sehari. Guyonanku seperti  ”Jangan ngerokok terus. Nanti kau cepat mati. Aku pasti sedih”, sebenarnya itu bukan guyonan biasa. Aku memang tidak ingin kau cepat mati. Apalagi kita baru bertemu –kembali-.
Enam hari kau tak mengabariku, hampir seminggu. Aku seringkali kehujanan disini lantaran kau tidak lagi mengingatkanku untuk membawa mantel, aku tidak makan tepat waktu, aku tidak pernah tidur cepat, aku sempat flu karena dingin yang mengepung kota Samarinda, Kalimantan. Aku coba menghubungimu, kau bilang disana susah membalas. Perlu kuingatkan sayangku, cinta kita hanya mengharapkan telpon selular, dan wifi-wifi gratis. Jarak semakin jahat.
***
Setidaknya aku sudah terbiasa soal jarak dan waktu. Disini aku pun sibuk dengan kegiatanku, latihan yang tiada henti dan analis-analisis novel yang belum rampung. Dahulu ketika perjalanan pertamamu ke Gunung Bromo, kau pun tak mengabariku tiga hari. Kau hanya mengirimkanku sebuah foto dengan background kabut-kabut subuh. Tidak masalah bagiku, aku turut bahagia. Aku paham, kau adalah orang seni, setelah kau tempuh sarjanamu pasti kau habiskan musik-musik karawitanmu itu sebagai nafkah. Bukan sepertiku, musik hanya hobi.  Selebihnya aku hanya ingin menulis.
 Lalu kau berkhotbah panjang lebar.
 “Hobi dan bakat sama saja, toh dari hobimu itu kau sudah pernah merasakan uang dari hasil manggung”, katamu dari ujung telpon.
Sayang, kutahu kita tidak terikat, aku bukan kekasihmu lantaran kau belum pernah meminta dan aku belum pernah menagih. Namun ada baiknya kita tidak memiliki profesi yang sama nantinya. Walapun aku tidak pernah membayangkan kita akan hidup bersama.
Sayang, barangkali aku benar-benar kesepian, tapi tidak benar-benar ingin ada seseorang yang terus-menerus berada didekatku. Malam kemarin , ada lelaki yang pernah kucintai kembali menelponku, kuingat-ingat ada 3 panggilan masuk, namun aku berhasil menolaknya. Malam ini, ia kembali menelpon, kau tau kan betapa merasa bersalahnya jika tidak menjawab panggilan orang lain, apalagi seseorang yang sempat kau cintai hingga nafas dan jiwamu. Aku terpaksa mengangkatnya, walau setengah hati. Ia menanyakan kabar beserta tetek bengeknya. Jujur aku sangat terkesan, hatiku hampir luluh lagi.  Namun ku jawab sebisanya saja. Seperti di campur aduk perasaanku, aku memilih pura-pura ngantuk dan ingin tidur. Selepas itu aku tidak bisa tidur semalaman.
Aku memilih bungkam saja mengenai kejadian itu. Sebab aku ingin menjaga perasaanmu, menjaga hubungan yang aku tak tahu apa namanya. Yang jelas skor kita sudah satu sama.
Kemarin kita pernah bertengkar hebat. Bukan, bukan bertengkar hebat, namun amarahku saja yang membabi buta. Kau tak punya hati, sungguh. Kau biarkan jarak memenangkan pertandingan ini.
 “Aku hanya rindu, sebatas rindu, apa salahnya?” kau bilang begitu.
Ya Tuhan, kau begitu kejam berkata demikian. Aku bukan mendramatisir persoalan kemarin. Perempuan mana yang tidak sakit hati jika lelaki yang dicinta nya sedang merindukan masa lalunya. Sempat bertemu pula. Ah kadang kau tak berperasaan.
Sejak masalah itu muncul, aku mogok menerima telponmu. Kuingat-ingat sempat dua minggu lamanya, ku biarkan kau menyesali perbuatanmu, ku biarkan kau mencari-cariku, ku biarkan pula kau mengemis maaf. Bukannya kejam, tetapi aku hanya ingin membuatmu kapok. Ku yakin, hubungan ini sudah mulai cacat. Aku tak ingin kau berbual, maka dari itu aku sering menanyakan mu dua hingga tiga kali. Aku tak mau dibohongi, aku pun tak sudi bila punya saingain lain selain jarak.
***
Setelah aku menimbang-nimbang lagi memang ada baiknya kita tidak mengikat satu sama lain. Kau seorang pemusik, kau akan sering bertemu orang-orang baru, berarti wanita-wanita baru. Kudengar penari-penari ISI begitu memikat.  Sedangkan aku adalah seorang yang pencemburu berat.  Aku sadar, memang tidak ada komitmen diantara kita, kita tidak pernah bicara soal itu. Namun kuyakin hatimu bukan batu.  Aku percaya tangan-tangan tuhanlah yang mempertemukan kau dan aku, mendekatkan yang jauh dan memaafkan yang lalu.  Bukan tidak mudah memulai dari nol. Berteman dekat 4 tahun lamanya, lalu kau sempat kucampakkan (aku tak pernah berniat begitu). aku memang brengsek namun nyatanya kita saling mencari. Merindukan dalam jarak yang pekat, lautan dan daratan yang luas. Kurasa Jawa tidak selamanya jauh dari pandanganku, toh kita melihat bulan yang sama malam ini.
Sayang, Kau tahu aku pengecut kan. Memangilmu sayang di dunia nyata pun aku tidak pernah. Aku hanya berani menulis, yang aku bisa hanyalah menulis. jika aku sudah menulis tentangmu berarti hatiku pun sudah berhasil kau curi. Dan tebaklah, kau sudah lebih dari berhasil.

Selasa, 20 Oktober 2015

Teruntuk calon jodoh ku kelak

...

Kamu tau siapa pencuri kebahagian hari ini? Tentu ku jawab, kekhawatiran di masa depan. Aku bukan perempuan hasil silang antara lelaki kaya raya dan wanita rupa rupawan. Hingga bisa kau lihat apa adanya aku, tidak jenjang, tidak mulus, tidak menarik, biasa biasa saja. Jadi kau bisa memikirkan berulang ulang kali baik buruknya aku bila disampingmu..

Jika tidak cantik, tapi kau punya segepok daun rupiah, mungkin kau bisa ke salon atau ke rumah sakit untuk membedah wajah biasamu menjadi luar biasa. Tapi sayangnya, aku tak punya. Jangankan segepok, sehelai pun aku masih meminta. Dan perlu ku ingatkan lagi, aku bukan perempuan hasil silang antara lelaki kaya raya dan wanita rupa rupawan. Aku biasa saja. Jangan terlalu berharap lebih, sayang.

Blog ini, aku yakin tak banyak orang yg membacanya. Mungkin satu dua yang iseng. Mungkin kau, yang juga iseng. Karna isinya hanya curahan tak begitu penting, tak berbobot. Tapi entahlah, rasanya ketika resah, ada sedikit rahasia yg ingin aku bagikan pada kata.. (selain padaMu disetiap sujud), bukannya aku tak sanggup menampungnya sendiri, bukan pula karna aku tak punya banyak teman. BUKAN.. Aku cuma sedikit capek, mungkin.. Dan seonggok tulisan ini bisa jadi tukang pijit hati .

Tabiatku tak begitu bagus, suka meledak ledak, perasa, labil. Mungkin kau tau, oleh karena itu kau boleh mundur jika tak sanggup memimpin calon makmum sepertiku

Bibit, bebet, bobot. Ibuku pernah bilang, suamiku kelak harus punya bibit, bebet, bobot yang berkualitas. Buk, buk.. anakmu aja loh tidak berkualitas. Cuma mahasiswa akhir jurusan sastra indonesia, yang entah lulusnya mau jadi apa. Cuma pemain biola amatiran. Cuma perempuan biasa, buk. Apalagi bapak.. (hm ga usah diteruskan)

Tulisan iseng ini, teruntuk calon jodoh ku kelak...

Tak usah terlalu kau kejar, lantaran aku cuma perempuan yang terkadang dilanda krisis percaya diri. Putus asa melihat kabut di masa depan.



Sabtu, 09 Agustus 2014

SAYA TIDAK SUKA BUBUR


Gatal yang tuk kunjung usai itulah bakat. Ibu Suri pernah bilang dengan saya siang itu, matanya teduh. Dengan baju dan rok berwarna lembayung iya melangkah ke podium untuk bilang saya berarti punya bakat.
Bukan, maksud saya bukan kepada saya saja Dee bilang begitu, tapi kepada puluhan pasang mata di perpustakaan tadi.

Benarkah Gatal yang tak kunjung usai itu adalah bakat, tuhan? Terkadang pertanyaan itu buat saya makin sakit kepala tetapi selebihnya saya yakin. Bukan lantaran dia seorang penulis novel best seller, tapi memang radiasi yang dia beri cukup membuat saya percaya.

Sejauh ini saya memang sudah kepalang basah berkecimpung seni dan sastra. Kuhitung-hitung lagi sejak TK saya sudah keseringan menggunakan otak kanan. Hingga sekarang, 20 tahun, saya malah merasa salah jalan.
Saya seorang calon sastrawan, entah menjadi apa setelah lulus dari program sarjana, penulis novel? Penulis skrip? Pekerja kantoran? Dosen? Guide tour? Semua masih mengambang seperti tai. Malah ada teman sekelas saya yang mengaku bahwa tulisan saya jelek, tidak berkualitas, begitu juga permainan biola saya, ngambang kaya tai.

Saya seorang violinist, violinist gagal tentunya. Kalau tidak gagal mana mungkin saya galau setiap malam lantaran konsep musik belum kelar-kelar, setiap hari dicaci, dibisiki oleh senior saya yang sudah bersertifikat, “Hai Bodoh, kamu memang nggak punya bakat disini”. 
Atau si Tuhan artistik yang berkoar-koar “Dari tadi kamu cuma diam, Cuma mencatat, sebenarnya kamu paham atau tidak apa yang saya omongkan?”. 
"Pak, sebenarnya saya paham, saya cuma butuh waktu menyalurkannya. Ga seinstant itu, Pak”. Kemudian saya dicaci lagi. 
"Yasudah, saya meyerah, rasanya memang saya cuman tukang catat dan tukang ngingatin. Saya tidak bisa pak, saya memang tidak punya bakat disini". Sebagian melongo mendengar pengakuan saya.

Gatal ini semakin menjalar keseluruh tubuh dan pikiran, saya semakin tidak karuan. Tapi mau gimana lagi kalau nasi sudah menjadi bubur. Kata ibu saya, saya ini batu, sekeras batu. Walau terkadang aku merengek  kepadanya “Sebenarnya apa.. Menulis? Musik? Berkhayal? atau diam?”. Tidak! Yang terakhir bukan opsi. saya tidak ingin diam. Benar kan, saya memang batu... batu cadas, saya tidak mempan dipecah-belah.
Memang saya tidak suka bubur, tapi yasudahlah... Nikmati saja buburnya, toh saya tinggal membeli kuah sop dan menambahkan suiran ayam dan telur diatasnya.....bon cabe jangan sampai lupa... 

BUBUR INI... TERIMA KASIH....