...

Kamu tau siapa pencuri kebahagian hari ini? Tentu ku jawab, kekhawatiran di masa depan. Aku bukan perempuan hasil silang antara lelaki kaya raya dan wanita rupa rupawan. Hingga bisa kau lihat apa adanya aku, tidak jenjang, tidak mulus, tidak menarik, biasa biasa saja. Jadi kau bisa memikirkan berulang ulang kali baik buruknya aku bila disampingmu..

Jika tidak cantik, tapi kau punya segepok daun rupiah, mungkin kau bisa ke salon atau ke rumah sakit untuk membedah wajah biasamu menjadi luar biasa. Tapi sayangnya, aku tak punya. Jangankan segepok, sehelai pun aku masih meminta. Dan perlu ku ingatkan lagi, aku bukan perempuan hasil silang antara lelaki kaya raya dan wanita rupa rupawan. Aku biasa saja. Jangan terlalu berharap lebih, sayang.

Blog ini, aku yakin tak banyak orang yg membacanya. Mungkin satu dua yang iseng. Mungkin kau, yang juga iseng. Karna isinya hanya curahan tak begitu penting, tak berbobot. Tapi entahlah, rasanya ketika resah, ada sedikit rahasia yg ingin aku bagikan pada kata.. (selain padaMu disetiap sujud), bukannya aku tak sanggup menampungnya sendiri, bukan pula karna aku tak punya banyak teman. BUKAN.. Aku cuma sedikit capek, mungkin.. Dan seonggok tulisan ini bisa jadi tukang pijit hati .

Tabiatku tak begitu bagus, suka meledak ledak, perasa, labil. Mungkin kau tau, oleh karena itu kau boleh mundur jika tak sanggup memimpin calon makmum sepertiku

Tulisan iseng ini, teruntuk calon jodoh ku kelak..

Tak usah terlalu kau kejar, lantaran aku cuma perempuan yang terkadang dilanda krisis percaya diri. Putus asa melihat kabut di masa depan.




Gatal yang tuk kunjung usai itulah bakat. Ibu Suri pernah bilang dengan saya siang itu, matanya teduh. Dengan baju dan rok berwarna lembayung iya melangkah ke podium untuk bilang saya berarti punya bakat.
Bukan, maksud saya bukan kepada saya saja Dee bilang begitu, tapi kepada puluhan pasang mata di perpustakaan tadi.

Benarkah Gatal yang tak kunjung usai itu adalah bakat, tuhan? Terkadang pertanyaan itu buat saya makin sakit kepala tetapi selebihnya saya yakin. Bukan lantaran dia seorang penulis novel best seller, tapi memang radiasi yang dia beri cukup membuat saya percaya.

Sejauh ini saya memang sudah kepalang basah berkecimpung seni dan sastra. Kuhitung-hitung lagi sejak TK saya sudah keseringan menggunakan otak kanan. Hingga sekarang, 20 tahun, saya malah merasa salah jalan.
Saya seorang calon sastrawan, entah menjadi apa setelah lulus dari program sarjana, penulis novel? Penulis skrip? Pekerja kantoran? Dosen? Guide tour? Semua masih mengambang seperti tai. Malah ada teman sekelas saya yang mengaku bahwa tulisan saya jelek, tidak berkualitas, begitu juga permainan biola saya, ngambang kaya tai.

Saya seorang violinist, violinist gagal tentunya. Kalau tidak gagal mana mungkin saya galau setiap malam lantaran konsep musik belum kelar-kelar, setiap hari dicaci, dibisiki oleh senior saya yang sudah bersertifikat, “Hai Bodoh, kamu memang nggak punya bakat disini”. 
Atau si Tuhan artistik yang berkoar-koar “Dari tadi kamu cuma diam, Cuma mencatat, sebenarnya kamu paham atau tidak apa yang saya omongkan?”. 
"Pak, sebenarnya saya paham, saya cuma butuh waktu menyalurkannya. Ga seinstant itu, Pak”. Kemudian saya dicaci lagi. 
"Yasudah, saya meyerah, rasanya memang saya cuman tukang catat dan tukang ngingatin. Saya tidak bisa pak, saya memang tidak punya bakat disini". Sebagian melongo mendengar pengakuan saya.

Gatal ini semakin menjalar keseluruh tubuh dan pikiran, saya semakin tidak karuan. Tapi mau gimana lagi kalau nasi sudah menjadi bubur. Kata ibu saya, saya ini batu, sekeras batu. Walau terkadang aku merengek  kepadanya “Sebenarnya apa.. Menulis? Musik? Berkhayal? atau diam?”. Tidak! Yang terakhir bukan opsi. saya tidak ingin diam. Benar kan, saya memang batu... batu cadas, saya tidak mempan dipecah-belah.
Memang saya tidak suka bubur, tapi yasudahlah... Nikmati saja buburnya, toh saya tinggal membeli kuah sop dan menambahkan suiran ayam dan telur diatasnya.....bon cabe jangan sampai lupa... 

BUBUR INI... TERIMA KASIH....
Tuhan pernah berjanji, "akan ada pelangi disetiap usainya hujan". Bukannya aku sok agamis atau kau yang berlagak atheis, tetapi benar aku sangat percaya janji itu, kuncoro.
Kali ini kuyakin kau bukan lagi sosok kekasih yang ku idamkan, kau lebih dari itu. Aku memang seorang pesakitan, kurasa kau paling paham. Tapi memang nyatanya aku benar-benar ingin kau yang mendengar keluh si pesakitan ini.
"Mengolah rasa sakit memang harus extra sabar" kau bilang begitu.
Lalu aku bisa apa selain mengangguk.
Kita sudah lama sekali tak bertemu, mungkin kau tak bisa lagi membaca mataku, berlagak sok tahu, memikirkan hal yang sama(padahal tak pernah sejalan karena kau masih amatir-peramal amatir-). Aku hanya merindu mu, kuncoro. Bersama malam malam panjang berisi curahan.
Subuh ini aku hanya ingin bilang bahwa melupakan manusia itu sama sulitnya dengan mengingat manusia yang tak kau kenal. Aku hanya ingin mengaku bahwa benar semua vonismu. Aku masih kacau balau, pantas dibiarkan sendiri biar tidak penasaran lagi. Ada benarnya berhenti melawan masa lalu, karena kami bukan musuh toh? Mungkin harus ku kunci rapat-rapat dulu hati ini, tak perlu kuberi ke siapapun. Ku biar
kan semuanya berkontemplasi.
Kuncoro, ternyata mengolah sakit
memang tidak mudah. Aku juga butuh istirahat.



Siapa yang bisa membaca pikiranmu selain Tuhan? Siapa? Kurasa tak ada. Mustahil manusia sedingin kau bisa ditebak segala hati dan isi otaknya. Lagi lagi hanya kau –manusia terintovert penghuni bangku belakang- yang membuatku kebingungan. Aku sih tidak ambil pusing, aku hanya bingung. Itu saja. Titik.

Ternyata kau benar-benar menyukaiku? Apa aku tak salah baca? Ya Tuhan, sungguh tidak beruntungnyaaku telah menyia-nyiakanmu dulu, Siapa sangka kau menghafal perkataanku yang sedikit gila itu, kau ingat segala omong kosongku yang aku tak saja tak mengerti.

Tidak terasa sudah hampir setahun masa itu berlalu. Aku terpaksa mengais-ngais lagi cerita tentang” Kuncoro” si kutu buku yang sering kali mencuri pandanganku dengan ajaib.

“Teh tarik, lek. dingin”. Kemudian kau duduk di pojokan mencari sudut yang tidak terlihat keramaian, lalu kau duduk diam disitu, membaca buku. Kau semakin acuh -tak acuh, dengan kepulan asap kau tetap diam, sedang aku berkoar-koar agar kau sedikit saja melihat ke arahku. (Ternyata aku baru tahu, kau juga mendengarkanku) Sudah berapa batang rokok yang kau habiskan siang ini, Kuncoro? 3 batang? 5? Satu Slop?? Aku kan sudah pernah bilang, jangan sering-sering merokok, merokok bisa membunuhmu. Tapi mungkin kau tak ingat, atau bahkan kau tidak mau mendengarkan sebab kita sama-sama perokok.

Dulu aku tidak suka teh tarik, tapi karena kau aku jadi suka. Sederhana ya. Kadang aku bingung, sebenarnya kau menyukai teh atau kopi? Kau sulit ditebak.

Kau begitu memusingkan ku, saat tiba-tiba kau datang secepat angin, kau juga terlalu cepat berlalu. Begitu kah cinta? Aneh. Tapi bagiku memang begitu cinta, tidak pumya logika.

Sebenarnya tulisan ini bukan curahan hati, bukan, sungguh bukan. Tetapi aku hanya ingin cerita, Akhir-akhir ini aku mencoba untuk mencairkan segala suasana yang dulunya aku hancurkan sendiri, aku mulai menyapamu (sedikit, atau mungkin tidak berhasil sama sekali). Kadang aku mengirim pesan singkat padamu, isinya hanya 3 kata: Hai. Atau pernah juga aku menelponmu alih-alih menanyakan teman sekamar. Tapi kau tetap acuh—tak acuh. Hingga kabar itu terdengar di telingaku: KUNCORO SUDAH PUNYA GANDENGAN! Oh tidak, pupus sudah, aku angkat tangan. Semoga kau bahagia, kuncoro.
Semalam aku kembali membaca habis buku jeniusnya DIKA: Manusia setengah salmon. Aku  sedikit terhibur, sedih, sekaligus terharu.
Lucu ya, fakir cinta alias jomblowati seperti ku dianggap makhluk tidak beruntung di zaman serba modern ini. Aku tidak habis pikir, kok bisa? memang, aku sudah single setahun belakangan. Tapi letak lucunya itu dimana?

Mungkin lucu bagi sebagian orang, kadang aku juga geli. Aku tidak bisa pindah, aku tidak bisa segampang itu pindah kemana-mana.  Aku cuma ingin "yang itu" sajalah, aku menunggu saja. Tapi nyatanya "yang itu" juga tak kunjung "melihat" ku. "yang itu" -mungkin- hanya mempermainkanku. Dan aku akan semakin gila.

Aku jadi ingat kutipan buku jenius itu semalam.
“Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya..... Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan.

Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.”
Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon 

"aku harus pindah, aku harus pindah, oh neptunus, toloooooong aku", 

Bak tamparan sendal jempitnya nenek gayung, tiba-tiba kata-kata si penulis menyadarkanku.Karna -mungkin- orang yang  aku inginkan bukan orang yang benar-benar aku butuhkan. Mungkin suatu hari aku akan dipertemukan dengan lelaki tepat itu, di sore yang indah, dengan angin sepoi-sepoi dia datang tanpa diduga-duga. Mungkin akan se-sederhana itu.  Entahlah, semuannya kan hanya kemungkinan. Lantaran aku percaya bahwa “You can't always get what you want, but, if you try, sometimes you just might find you get what you need .”
Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon

Suatu hari, ketika sudah "waktunya" maka akan kunyanyikan "Good morning song": lagu impian ku kepada lelaki beruntung itu setiap pagi. Akan ku doakan di setiap harinya.

Your Love is like a morning dew
Pure and simple everyday,
Your love is like a morning dew
Pouring softly everyday


Your love is like a glowing sunrise
Warm and shiny everyday
Your love is like a morning breeze
Nice and easy to be loved


Good morning love
Have a nice day
Good morning love
Have a nice day


Wish me luck 
N.

Bunga Pukul Sembilan

Pukul sembilan, aku baru bisa melihatmu dilingkaran ini, menatap bahumu, ya hanya bahumu. Akulah si bunga pukul sembilan, tak bisa selamanya mencuri-curi pandang kepadamu, merpati jantan, karena aku hanya bunga pukul sembilan. Aku hidup hanya di pukul-pukul sembilan, ketika kau sedang asyik tertawa dengan teman-temanmu dan merpati betina lainnya. Aku sudah cukup puas, karena aku sadar , aku hanya bunga pukul sembilan. Sesak dan pengap menahan rindu ber-jam-jam untuk menanti pukul sembilan.
Awalnya ku kira ini bukan penantian yang sia-sia lagi, awalnya aku kira tidak ada yang salah dengan rindu ini. Kau bersikap baik dan ramah kepada ku, si bunga pukul sembilan yang liar, pahit, dan dingin. Kau selalu datang ketika matahari mulai membiarkanku hidup, di detik-detik ketika waktu mengutarakan bahwa sebentar lagi pukul sembilan, aku akan hidup.
Kita berteman, cukup lama. Tapi kau hanya menemuiku sesekali, saat benar-benar genting, saat mau tak mau menjadi kata “harus”. Pernah waktu itu kau menemuiku, sebut sajalah kita sedang kencan sesama teman, atau aku yang berpikir terlalu spesial. Kau harus tahu kalau aku bahagia. Aku tidak bisa tidur semalaman. Aku ingin beritahu disekelilingku bahwa aku baru saja kencan dengan idolaku. Tapi sekejap saja kau sudah hilang dari pandangan. Apa lantaran aku tidak cantik? Kata Ibuku, aku cantik. Kita sama-sama berwarna putih, sayangnya kau hanya mempunyai sedikit noda-noda berwarna hitam dan kakimu berwarna merah. Tapi harus kuakui, aku memang tak secantik asoka, atau mawar liar lainya. Aku sadari itu.
Tidakkah kau kasihan? Aku dan kau berbeda, aku hanya bisa diam ditempat, tugasku hanya mengamatimu dari jauh, syukur-syukur kalau kau melihatku juga, menghambur senyum, aku pasti sudah senang. Sedang kau, kau bebas, kau bisa sesukanya melayang-layang dengan sayapmu, kau bisa berlari lari kecil, kau bisa datang semaumu, kesana-kemari, kepada siapa saja: merpati betina, angin betina, bahkan bercumbu dengan ilalang. Toh aku hanya bisa diam di bawah baangkai pohon yang usianya sudah puluhan tahun. Tersiksa. Aku memang dingin dan pahit, tapi tidak bisakah kau menyapaku; hanya sepotong kalimat “hai bunga pukul sembilan”, ya aku hanya menunggu sepotong kecil dari ribuan kalimat dari bibirmu, kau begitu pelit, kau tak punya hati.
Merpati Jantanku, kau tidak tau betapa tersiksanya menjadi bunga pukul sembilan, aku hanya punya waktu tiga jam untuk melihatmu tertawa atau bernyanyi, atau apa sajalah yang kau lakukan, sebelum akhirnya aku layu disengat matahari siang pukul dua belas.
Suatu hari aku bangun dari tidur panjangku, gerimis menyambutku dengan sendu. Aku baru ingat kalau musim hujan sedang menyerang.
“hai bunga pukul sembilan, kau tampak segar hari ini”, sapa tuan hujan.
“hujan, dari berpuluh-puluh mereka disini hanya kau bilang begitu”, ejekku.
“hahaa mereka buta”, dia tertawa, kalimatnya tidak terdengar cukup jelas karena dia berbicara sambil mengakak kecil sekaligus mengunyah tempias.
“ah sudahlah, jangan bohong kau, guyur saja aku, jangan biarkan bangkai pohon ini membuatku haus”
Hujan mengguyurku, rintik demi rintik.
“Aku tidak berbohong. Tapi sepertinya..... kau sedang sedih? Atau tebakanku salah?”, ia tetap mengunyah tempias.
Aku tersenyum saja. Duka tak dapat ku sembunyikan.
Kau yang membawaku ke lingkaran ini. Hutan rimba, penuh racun dan duri. Bukan hanya semak belukar, tapi lumpur dan rumput liar. Termasuk aku, aku hanya salah satu kawanan bunga tak dianggap, kau memang tak salah membawaku ke sini, kau memang mengenalku, atau jangan-jangan kau hanya mengolokku.
Semula aku tak mau mengikutimu, semula aku berpikir ribuan kali untuk pindah ke habitat yang aku tak mengerti bagaimana pendudukdan segala rantai makanannnya, entah tamak atau ramah.
Aku sempat berpikir berpuluh-puluh windu hingga semesta muak dengan kecemasanku. Aku hanya berpikir normal, apakah aku akan baik-baik saja jika mengikuti si rupawan ini? Apakah bahagia? Atau sengsara? Aku hanya ingin bertahan hidup, dan kau “merpati bermata biru” menjadi pertimbangan terbesarku dalam urusan segila ini.
Kau merayuku, tak pernah jenuh. Segala pujian beserta tetek bengeknya sudah kau muntahkan. Kuakui kau memang pandai, kau taku kelemahan si bunga betina pukul sembilan, walaupun aku sadar aku tak pantas dapat pujian, karna aku hanya bunga pukul sembilan. Kau bilang aku cantik, pintar, menarik, ah persetan. Walaupun aku tahu kau hanya merayuku agar bisa masuk hutan rimba yang kau sanjung-sanjung hingga tumpah darah penghabisannmu. Tapi aku tetap saja si bunga pukul sembilan yang mencintai merpati jantan dihadapanku ini.
Tapi kau memang pintar, kau berhasil merayuku.
Disini sejuk, dibawah bangkai pohon yang usiannya berabad, tapi aku tak pernah sejuk jika melihatmu bersama teman-teman betina mu. Yang pertama, kutahu teman dekatku menyukaimu, si Soka yang pernah kau berikan gelang rumput ditangannya, dan kau diam-diam menemuinya. Romantis ya? Ah betapa beruntungnya dia, cantik, dan kau seperti menyukainya. Yang kedua, aku dengar-dengar kau punya pasangan baru, si merpati betina yang aku tidak tahu namanya, yang jelas dia juga jelita, lebih jelitah dari si Soka. Namun kudengar-dengar juga hubungan kalian kandas, jujur saja aku ingin meloncat saking senangnya. Setelah itu kau dengan gampangnya bermain-main dengan yang lain. Mencumbu si ilalang, memberinya perhatian. Kau pasti mengiraku cemburu kan? Tidak. Tidak salah lagi.
Disini memang sejuk, tapi tetap saja kau tak kunjung datang. Aku sudah susah bernapas lantaran angin yang berhembus lara di hutan ini, aku tersiksa, merintih karena pujaanku tak kunjung datang, Kurasa sebentar lagi aku akan layu dan mati lantaran rinduku sudah sesak dan tumpah, aku tak ingin jadi bunga pukul sembilan. Aku ingin selamanya melihatmu, membaui aroma mu yang lebih mirip semangka, menjadi penonton setia di setiap pertunjukanmu. Aku ingin jadi si mawar, si kumbang, si anggrek,  si merpati-merpati betina yang leluasa melihatmu bermain diatas panggung, dengan skenario tuhan yang memang men-takdirkan ku sebagai peran pembantu, bukan sebagai pasanganmu. aku sudah menunggu mu bukan hanya beberapa jam, sudah betahun-tahun cahaya, kau seharusnya sudah melihatku hari ini, ditengah sakaratul mautku . Aku kurang sabar bagaimana lagi, aku bukan lagi goyang, aku bukan rapuh, tapi aku sudah-benar-benar jatuh. aku menyerah, merpati jantanku. kau hanya bisa kumiliki disetiap episode-episode mimpi di setiap malam yang ranum, aku hanya bisa menciummu disetiap doa, aku hanya memelukmu di imajinasi setelah lewat pukul 12 siang.
Maafkan aku jika terlalu pengecut, menyukaimu dalam diam, menjadikanmu sesuatu yang kukagumi selain rembulan. Suatu saat kau harus tahu rasanya aku yang sebenatr lagi mati dan tak bisa bersandar didekapmu barang sedetik saja, suatu saat kau akan tahu pedihnya menanti senyuman dari tuan yang sebenarnya tidak ingin tersenyum. Ya, kau harus tahu. Maafkan aku.




Ini rahasiaku tentang isak dan bahagia, jaga rahasiaku seperti kau menjaga ibumu, janji ya.  Sebenarnya aku hanya berani bercerita kepada telinga-telinga yang waras, bukan kepada kau, manusia yang tak ku kenal warna bola matanya. Aku menulis cerita ini ketika aku setengah lumpuh dalam kegalauan. Sudah  3 hari terakhir aku menangis terus. Mau makan meringis, mau tidur meranyau, mau bangun tidak ingin bangun, dan mau tidur sampai lupa bagaimana caranya tidur. Begitulah saat logika dan perasaan sudah porak poranda. Tidak seimbang. Berat sebelah. Butuh penyeimbang dari alam atas sadar, karena alam bawah sadar sudah menyerah, tidak mampu menolong.
Kau perlu tahu, sekarang tidak ada fajar di mataku, hanya remang malam. Semuanya telah hilang. Buram. Aku sudah seperti orang gila di kamar ini, tidak ingin keluar kemana-mana. Aku sudah terkepung  harum parfum mawar di kamaar ini , Avril rose, aku hapal. Apalagi bisikannya, menggema sampai-sampai mengalahkan teriakanku yang minor.  Aku hampir mampus. Ya tuhan, biarkanlah aku mampus bersama dosa-dosa dan kehinaanku. Begitu doa ku setiap hari. Dia lah manusia paling biadab, pria bernasab melayu, bermata terang dan besar.
Kau perlu tahu, perutku sudah tidak tesentuh makanan dua hari lamanya. Berharap apapun yang akan hidup di perutku akan segera mati. Tapi kenapa perut ini makin membesar, makin membesar, membuncit. Untuk itu aku mecarinya. Bara.
Aku rasa ada yang aneh dengan kamar ini. Dari sudut ujung dekat lemari sampai sudut dekat kasur, persegi ini lebih mirip area dilarang tertawa, area galau. Seperti ada gravitasi di balik ubin-ubinya yang menarik masalah gila ke permukaan. Seperti debu, banyak sekali. Seperti debu bertebaran, menyesakkan dada, pernafasanku sesak.  Mari ku ceritakan rahasiaku sejak tiga bulan yang lalu...


Akhir-akhir ini tidurku makin gelisah. Tidak ada sore dan udara makin meranggas. Lebih-lebihnya kalau gelap sudah menggulita-i senja. Semuanya seperti siang, yang ada sisa terik tadi siang, membakar hawa sekitar kamarku. Aku tidak bisa tidur nyenyak. Selalu terjaga oleh bayangan siang.
Aku selalu mengeluh dengan kakak kost sebelah kamar, ternyata dia juga kepanasan. Aku pernah meminta kepada paman untuk memindahkanku di kamar bawah. Bukan meminta, tapi memohon.Karena aku rasa kamar di lantai bawah terlalu sejuk untuk ku tinggali beberapa tahun kedepan. Paman kejam, kenapa ia tega menyuruhku tinggal bersama kakak kost yang umurnya jauh lebih tua daripadaku. Aku pernah menanyakan hal itu kepada paman, paman bilang aku ribut kalau main biola setiap hari, malah tidurnya yang terusik sepanjang sore. Tapi lebih kejam lagi ibuku, kenapa ia tega menitipkanku kepada paman yang baru saja menikah. Padahal umurku baru 16 tahun, baru lulus SMP,  masih ingusan, masih belum bisa cuci baju sendiri. Apalagi dengan penyakit ku yang mengerikan. Ibu bilang aku punya penyakit Achluophobia atau Nyctophobia. Sejak umur 5 tahun aku memang takut gelap. Kalau lampu padam, nafasku terlanjur cepat, denyut jantungku tak beraturan, berkeringat dan mual. Tapi Ibu besikeras menitipkan ku di rumah Paman.
Aku baru tahu kalau penghuni rumah ini suka tidur sore, bukan tidur siang. Alasannya pun sama, karena kalau sore mereka punya banyak waktu untuk sekedar melepas penat. Gila. Padahal sore adalah klimaks nya senin, rabu, jumat, semua hari. Sayang untuk dilewatkan hanyak untuk sekedar tidur.
Aku adalah penikmat sore, penikmat senja, penikmat matahari tenggelam. Tapi semenjak aku migrasi kesini, banyak yang berubah. Aku menjadi peminta-minta hujan. Ya, hujan yang deras, sederas-derasnya, dan waktunya pasti sore dan malam. Tentu saja, agar panas kamarku tidak semakin menyengat.
Kamarku kecil, kurasa 3 kali lebih lebar daripada kuburanku nanti. Kata kakak-kakak disini, dulunya kamarku ini bekas gudang. Kamarku menghadap barat. Ini dia penyebab mengapa panas selalu hidup di sore hari.  
Untuk itu aku punya tempat favorit di lantai nomor dua stelah toilet. Iya toilet, kenapa? Karena menurutku toilet satu-satunya tempat terdingin dan terlembab di gua ini. Aku suka lama-lama disana, sampai kakak – kakak disini suka berebut antri dengan ku, dia ogah didahuluiku, karena mereka pasti bakal telat turun ke kampus kalau toilet aku yang pakai duluan. Aku bisa berak berjam-jam, mengangkang dua jam lamanya, padahal tak ada satupun yang ku keluarkan, aku hanya mengkhayal, mencari khayalan.
Tempat favoritku itu adalah beranda. Bagiku beranda beda dengan kamarku, disini aku bisa main biola sampai malam tanpa takut mati kepengapan, tak ada yang marah, kecuali kakak yang tinggal disamping beranda, dia hanya memberi kode supaya aku tidak terlalu nyaring mainnya. Kalau aku tidak peka, biasanya dia meng-kode terang-terangan, Besok aku ujian , nja  teriaknya. Mood ku terbalik. Aku langsung berhenti, takutnya saja kalau tidak berhenti, dia tiba-tiba datang, dan mnghunuskan penggaris besinya ke ulu hatiku. Aku bisa mampus. Dia manusia yang menakutkan.
Aku suka menikmati senja disini, tenang, damai, aku kembali hidup. Rasanya ingin ku pindahkan barang-barangku ke sini, baju ku, kasur, lemari, celengan. Aku mau tidur disni saja. Setiap penghuni rumah ini pasti menanyakan hal yang sama, kenapa aku suka senja? Dan hipotesanya kebanyakan sama, otaknya kampungan.
“Ah kamu nja, eh sen, kamu suka senja karena nama kamu senja juga kan?”, air muka ku langsung berubah, ada amarah yang kutahan.
“Ya nja, eh senja, kalau tebakan salah jangan langsung marah”, mereka pergi dengan sendirinya.
Aku bukannya marah lantaran hipotesa mereka yang tidak masuk akal atau syaraf mereka yang terlalu pendek untuk berpikir luas. Yang membuat aku marah adalah aku tidak suka dipanggil “NJA”. Seolah-olah mereka menyamakan aku dengan tinja, nja, nja, nja. Padahal sudah ku ulang berkali-kali, di awal pertemuan, di akhir pembicaraan, aku tidak suka dipanggil nja. Dasar sinting. Umurnya aja sudah kepalah dua, tapi untuk mengingat saja kalah dengan gajah.
Biasanya yang bisa meredakan emosiku adalah teh hijau thailand seduhan ibuku. Tapi lantaran tidak ada , penggantinya adalah kopi siap seduh yang rasanya seratus persen berantakan. Pamanku menyurh berhenti minum kopi, tapi aku tidak peduli. Kalau moodku kembali membaik, aku kembali juga menikmati senjaku. Di beranda ini, aku mengenal Bara. Dia dan teman-temannya sering main musik di rumah besar sebelah.
Awal pertemuan, dia memandang ku lama sekali dari kejauhan, aku juga membalas pandangannya. Dia memakai kaos warna hitam dan jeansnya yang robek-robek. Keren sekali.
Esoknya di beranda yang sama, dia menyapaku.
“SEN,” Aku tak mendengar.
Di ulangnya lagi, “SEN”
Aku diam. Kembali mendengarkan dengan seksama. Takutnya aku salah dengar, dan terlalu percaya diri.
Dia mengulang kembali, “SEN!”
Aku melengah ke berandanya, dia tersenyum, saat itu juga hatiku bergetar, aku senang bukang main.
“SENJA KAN? Boleh pinjam pemantik?”
“Pemantik? Ya, sebentar”
Cepat-cepat ku cari korek di dapur , kuturuni tangga, ku naikki lagi, aku terlalu bersemangat.
Aku datang cepat sekali, dia tersenyum. Ku beri ia korek dapur. Lalu dibakarnya sebatang rokok. Rokoknya mengepul, indah sekali.
“Terimakasih senja”
Kau tahu, semalan penuh aku susah tidur karena pemantik saja. Eh bukan pemantiknya, tapi orang yang meminjamnya. Aku senyum-senyum sendiri. Dari mana dia tahu namaku? Dan yang paling kusuka , dia memanggilku SEN, Bukan Nja. Aku tidur ayam.Mataku bersinar sekali.
Sejak saat itu aku lebih cepat ke Beranda dari biasanya.
Pernah suatu hari, hari yang kutunggu –tunggu , dia berjanji menemuiku, seperti biasa dia meloncati pagar berandaku lantai dua. Hari itu lebih menyilaukan, Langit yang kulihat pun lebih menyilaukan, biru, putih, abu-abu menyilaukan. Aku membawanya ke kamarku. Dan kakak sebelah kamar tidak merespon apapun ketika aku membawa bara masuk, kakak-kakak yang lain juga diam-diam saja. Malah ada yang menyapaku, “Senjaaaaa”, sambil tersenyum. Padahal setahuku disini tidak boleh membawa pria naik keatas, apalagi masuk ke kamar. Aku kegirangan.
Bara kepanasan. Aku juga kepanasan. Dia membuka baju, aku juga mengikutinya, satu-satu melucuti kaos panjang ku. Kami bicara banyak, tentang musik kesukaannya. Tentang musik kesukaanku, dan tentang bagaimana selera musiknya sudah merubah selera nafas musik ku. Aku suka klasik, kadang jazz, kadang, swing, kadang pop melow, semuanya serba lembut. Makanya aku memilih violin, aku cerita begitu. Namun bara sudah merubah semuanya. Sekarang aku suka scream, kadang pop rock. Cinta memang gila. Aku percaya retorika itu.
Dia mengerti seleraku, dia paham tentang biola. Tentang bow yang jorok lantaran rowsin yang bercampur dengan keringat. Tentang lagu-lagu klasik yang ku suka, tentang kecintaanku dengan dinamika piano pianissimo dan decresendo. Aku bicara dengan cepat, kegirangan setengah mati.
Saat aku bicara cepat, tiba-tiba dia menciumku, menciumku di bibir. Kau perlu tahu Bara, itu pertama kalinya aku mengunyah bibir laki-laki. Rasanya hambar. Dulu waktu SD, aku pernah tidak sengaja menonton film yang ada adegan ciumannya. Aku bilang ke Ibu, kalau aku tidak mau ciuman sampai kapanpun, lantaran aku jijik kalu tertelan ail liurnya, nanti kalau ternyata yang laki-laki belum sikat gigi gimana bu?
Ibu ku tetawa saja, dia bilang kalau anak kecil tidak boleh ciuman, kalau ciuman nanti bisa hamil. Ibuku tertawa kecil, aku masih ingat mimiknya.
Aku geleng-geleng kepala, sejak saat itu aku tidak berani dekat-dekat dengan lawan jenisku.
Tapi Bara sudah memecahkan rekor, aku tidak muntah, aku tidak jijik. Aku terbang melayang. Hari itu aku bisa lihat anatomi tubuh Bara, aku lebih-lebih mengenalnya. Aku makin cinta , bara.
Keesokan harinya aku menunggunya di  Beranda tempat hati kita saling mengadu. Bara datang telat. Aku tidak kecewa. Wajahnya pucat, pucat sekali. Aku makin minder, Dia semakin putih bersih, mirip malaikat.
Dia bertanya, pertanyaannya membuatku gugup, seperti teriris.
Senja, Kalau aku hilang, apa yang akan kamu lakukan?
Aku menjawab tanpa berpikir, aku akan mencarimu, Bara.
Dia tersenyum, manis sekali. Dia bilang aku gadis yang manis juga, pikiranku satu strip lebih waras daripada pikiran kakak-kakak kost ku. Aku dewasa, katanya. Dan dia sangat-sangat menyukaiku.
Aku tidak mengerti sebenarnya apa itu dewasa, aku belum paham.  Yang ada di otakku dewasa berarti jarang menangis. Aku jarang menangis, berarti aku dewasa. Yang jelas aku tidak mau kehilangan Bara. Bagiku dia lebih dari panasnya api, lebih dari panasnya bara sungguhan.
Wajahnya makin pucat, aku tidak suka, walaupun wajahnya tampak lebih mirip malaikat. Tapi tetap saja seperti orang sakit. Ku ambil vitamin milik paman, ku berikan kepadanya semua. Mungkin aku lebih pantas disebut pencuri vitamin, tapi semuanya demi Bara. Aku sering juga membawakan makanan kesukaanya, kari ayam, aku ambil diam diam dari dapur. Aku kembali mencuri. Beruntungnya istri paman sangat menyukain makanan itu. Kami makan bersama, aku lihat caranya berdoa, tenang, damai. Aku senang melihat dia melahap-lahap, melahap, melahap hingga tandas.
Kami lakukan semua di beranda kami, ku sebut beranda kami. Kami tertawa hingga membangunkan kakak pemilik kamar sebelah teras, aku tak peduli. Yang penting aku melihat rentetan giginya yang putih dan bersih. Rapi , senyumnya dan setengah lingkaran senyum merah mudanya. Komplit, Bara adalah malaikatku.
Biasanya sehabis latihan musik, dia datang ke beranda dengan tergebu-gebu.
“Aku mau kari ayam”, katanya.
Aku segera pergi ke dapur bawah untuk memeriksa dibawah tudung.
Tapi dia menahanku
“Aku mau kari ayam buatanmu”, katanya lagi.
Aku terpingkal-pingkal. Bocah sepertiku mana mungkin bisa masak. Cuma bisa menghabiskan masakan. Aku masih terpingkal-pingkal. Ajaibnya aku mengiya kan.
Dia tersenyum, lebih manis dari biasanya. Dia menarik tanganku, mengajakku buru-buru masuk kamar. Dia terseret-seret macam anak kecil minta gulali atau mainan. Kali ini dia menciumku, lagi. Aku tak menyuruhmu menyikat gigi seperti hari-hari sebelumnya, aku tidak jijik lagi. Dan kami juga tidak menyikat gigi, aku tidur dengan kerak kari, serpih sayur, dan serat ayam di sela-sela gusi. Aku tentu saja tidur di lenganmu. Rasanya damai. Kamarku tidak pengap lagi.

Kalau  Bara sudah pulang, biasanya aku susah tidur, bukan lantaran kamarku pengap, atau udaranya yang meranggas. Aku susah tidur karena memikirkan Bara, begini gilanya jatuh cinta. Aku baru mengerti dan merasakan di umurku ke 16 tahun. Apalagi dengan perkataanya kemarin.
“Bagaimana kalau aku menggilang”
 Itu saja yang mengiang-ingan di pikiranku, berulang kali hingga aku merasa mual. Aku mau muntah. Tapi tidak keluar sedikit pun apa yang ingin ku keluarkan.
Bangun tidur pun aku mual lagi. Aku pergi ke wetafel, namun tidak ada yang keluar. Kembali lagi aku kamar. Sampai di kamar, aku kembali ingin muntah, aku segera ke toilet, tapi nihil. Tidak ada satu pun yang ingib keluar.
Kakak yang lain melihati ku. Aku tidak bisa diam.
“Aku masuk angin”, skak mat!
Mereka langsung berhambuh pergi. Dasar kecoa, umpatku.
Seperti biasa , aku menghabiskan waktuku di beranda lantai dua. Aku masih mual tapi aku berdandan lebih cantik seperti biasanya. Aku memakai bedak, memakai lipglos, eyeliner, maskara. Berulang-ulang ku check nasib wajahku yang lebih mirip topeng monyet. Ingin ku hapus saja rasanya. tapi kata kakak kost yang ku paksa untuk memdandani ku, aku cantik sekali. Sebenarnya aku ogah berdandan, tapi ku lihat Kak Betty tampak mahir berdandan, ia berpengalaman, setiap ke kampus ia berdandan, ke gereja dia berdandan, ke pasar malam dia berdandan, ke toilet berdandan. Kata pamanku mungkin dia ayam kampus. Aku tidak paham ayam kampus itu apa, mungkin dia punya pekerjaan sampingan sebagai badut di kampus , begitu pahamku.
Dua jam aku menunggu, Dua jam sperempat, Dua jam setengah, hampir bedak ku luntur, yang tersisa hanya eyeliner. Aku tidak kesal, aku hanya khawatir. Ego ku sudah kulunturkan, aku tidak pernah kesal dengannya. Studio musik kecil di samping rumahku sudah tidak terdengar bisingnya. Sisa sayup-sayup demo yang belum rampung. Diulang terus menerus hingga aku bosan.Aku menengok ke beranda sebelah.
Ada lelaki berkaos hitam, aku kira Bara.
“BARA!” teriakku
            Lelaki itu melengah, bukan Bara, aku kecewa.
“Ada Bara disitu?” aku teriak, mengalahi sayup-sayup demo
“Hah?” dia tak mendegar, aku perlu lebih kencang lagi
“’Ada Bara disitu?” aku berlomba dengan speaker studio, mengalahi sayup-sayup demo.
“Oh, tidak ada yang bernama Bara disini!” dibalasnya lagi dengan teriakan
Aku lebih kecewa. Tapi aku tidak pernah menginggalkan beranda kami. Dia tidak pernah tidak menepati janji. Mungkin Bara lupa. Aku menikmati sendiri senjaku, hingga gelap, hingga tidak bewarna. Aku tidak menangis, Bara melarangku.
Jadwalku sepertinya makin bertambah, setiap pagi aku ke toilet, ke westafel, sampai-sampai kakak kost menggedor gedor pintu toilet. Mungkin sebentar lagi pintunya mau ambruk. Aku keluar dan aku di semprot dengan kecoa satu ini.
“Kamu ngapain sih di dalam? Muntah lagi? Mual nja? Kamu hamil kali! Dasar aneh!”
Brengsek, lagi-lagi dia memanggilku Nja, padahal dia yang lebih mirip tinja. Aku diam saja, malas mengumpat, tapi apa jangan-jangan perkataannya benar? Tidak mungkin.
Aku kembali ke beranda, Bara tidak pernah datang hingga dua minggu, tiga minggu,  sebulan. Ia tidak pernah datang lagi. Maafkan aku Bara, aku harus menangis.
Hingga kutemukan pagiku yang hening, aku kaget bukan kepalang. Perutku membesar, perutku membuncit. Ada yang hidup di dalamnya. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana kalau ibu tahu, dan ibu akan memukulku lagi dengan tangannya yang kasar, dengan benda-benda di sekelilingnya, sepatu bahkan sapu. Persis saat aku berkata kalau aku tidak mau sekolah lagi. Ibu adalah monster kedua yang kutakuti setelah ayah.
Dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku curiga kalau itu adalah Bara. Aku tergopoh-gopoh membuka pintu. Tebakan ku salah, wanita separuh baya masuk kamarku, tanpa sepatah-dua patah pun, tanpa izin. Dibelakangnya ada paman dan bibi. Paman bilang jangan takut, dia Cuma mau tanya-tanya tentang keadaanku.
Pertanyaan pertama di buka, “apa kabar, senja”, aku tak menjawab.
Sampai ke pertanyaan ke bilangan sepuluh, sebelas, lima belas, dua puluh. Dia mengorek semuanya, tentang bara, tentang perutku yang membuncit, tentang suara scream di rumah sebelah, ia lebut, kadang tegas. Aku tidak tahu dia siapa, darimana, apa kaitannya dengan masalahku, dengan keluargaku.
Sampai aku bosan, aku tidak mau lagi menjawab. Dia keluar dengan senyumnya yang tulus. Dia memberiku Baby Breath, bunga kesayanganku, putih selembut kapas. Dia pergi dengan senyum yang kurindukan, lebih ku rindukan daripada senyum ibu.
Mataku semakin bengkak, aku menangis sepanjang malam. Aku tidak mau keluar kamar. Hingga bibiku yang baik hati membawakanku kari ayam, aku malah melemparkannya, kari ayam mengingatkanku pada Bara. Malaikatku yang hilang. Dan perutku semakin membuncit, ku elus-elus perutku, perutku yang ku cinta dan apapun yang ku cintai di dalamnya. Paman semakin iba jika melihatku, dia tidak marah, ibu sepertinya juga tidak marah. Kakak kost disebelahku juga tidak marah, dia melihatku malah kasihan, dia tidak pernah memarahiku lagi.
Hingga suatu hari Paman memanggilku turun kebawah, Sepertinya serius. Ia melihatk mataku bengkang , sesak bekas air mata. Tapi dia diam saja, tidak menanyakan sepatah pun. Mungkin dia tahu aku habis menangis. Bilang ayah, semakin dewasa seseorang, semakin jarang ia menangis di muka umum.
“Menangis lagi, senja?  Di anak tangga , ia membuka bicara
Aku kaget, tebakan  paman benar, tidak meleset. Sejak itu aku merasa gagal berpura-pura dewasa.
“Jadi anak jangan cengeng”, ia menambahkan lagi. Uh, dia peduli apa, tentang kehamilanku saja dia tidak peduli. Ku kunci rapat-rapat mulutku.
Sampai di ruang keluarga, aku didudukkan di sofa. Aku penasaran.
Ku elus-elus saja perutku, menunggu ia membuka bicara. Diseduhnya teh, ia minum, diambilnya kacang, di kusap, lalu di lemparkan ke mulutnya yang gelap dan bau. Aku kketawa kecil, senyum-senyum sendiri  , kata Ibu paman adalah saudaranya yang paling bau. Makanya paman paling lama dapat jodohnya. Dulu Ibu cerita setiap aku tidak mau sikat gigi, aku masih ingat. Makanya aku ketawa-ketawa.
Ha ha, bau jamban ha ha. Ku elus-elus lagi perutku.
Paman berhenti menyeruput, sepertinya dia mendengar umpatanku. Aku terbahak-bahak dalam hati.
“Senja , berhenti mengelus-elus perutmu! Perutmu tidak membesar, tidak ada yang hidup disana. “
Aku diam, mataku memerah.
Mulai sekarang kamu tidak usah tidar di atas, tidur sendiri lagi. Di atas banyak hantunya, ibu akan datang. Tidur sendiri membuatmu berkhayal tinggi. Dengar itu senja
Aku makin bingung.
Semenjak ada Ibu. Aku tidak pernah menangsi lagi. Perutku mengempes. Aku tidak pernah melihat Bara lagi. Ibu bilang , dia tidak pernah ada. Aku bingung.
            Dan wanita paruh baya yang sering memberikan Baby Breath makin sering ke rumah, menanyakan kondisiku. Katanya aku mengidap skizofrenia, penyakit jiwa dengan halusinasi yang berlebihan. Bara memang hanya malaikat, dia tidak pernah ada, dia hanya menemaniku ketika langit hatiku mendung, tak ada bintang sama sekali.
            Sesekali aku berharap skizofrenia ini kembali kumat, biar aku ketemu Bara, tapi nihil. Aku hanya menikati senja, sendiri, dan mengirimkannya beberapa bait, biar bisa dia kunyah di surga sana. Bara, Malaikatku.

Ku sebut itu rindu
Yang memuncak di ubun-ubunku
Tumpah dan sesak
Tak sanggup ku tampung, ku jejal
Dengan memori tua yang rapuh

Tak ku dapat lagi di kamar ini, Bara
Pria dan cahaya bola mata sepertimu
Seutuhnya tertinggal nun jauh di sana
Hati ini, hati itu

Manis
Manis
Bengis
Ingin ku lihat lagi
Seperempat lingkaran merah muda
Mata-mata yang menyatu dalam kenangan
Dan rinai hujan
Aku ingin kembali
Ingin menuai rindu yang kau tanam di senja kita 






















Kost Biru

N